PERJALANAN AKHIR SANG JENDERAL BINTANG V



Minggu, 27 Januari 2007 pukul 13.10 WIB .. sang mantan penguasa 32 tahun Republik Indonesia, Bapak H.M Soeharto telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang. Tim Dokter RSPP mengumumkan beliau mengalamai kegagalan multiple organ. Pukul 15.00 jenasah beliau dibawa kembali ke Jl. Cendana. Dan pada Senin pagi hari ini jenasaha beliau diterbangkan ke Solo untuk selanjutnya dimakamkan di Astana Giribangun pada pukul 10.30, tepat di makam Bu Tien Soeharto.
Sang Jenderal yang penuh kontroversial, yang hingga akhir hidupnya masih diburu tokoh hukum untuk diadili, yang pada masa keemasannya sangat disegani dan dihormati, yang menjadi satu-satunya Presiden RI yang pernah terjun langsung ke medan perang, yang telah menumpas pemberontakan besar pada Septmeber 1965, yang telah membangun bangsa ini dari kecil hingga sekarang.
Begitu banyak isak tangis masyarakat pecah begitu mendengar berita duka ini. Terutama bagi mereka kaum bawah yang sempat merasa betapa mudahnya mencari nafkah, begitu murahnya harga-harga sembako pada jaman beliau. Mereka menangis mengingat jaman sekarang betapa susahnya untuk bertahan hidup.
Dalam bukunya yang berjudul "Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya", beliau berujar:Kepada keluarga saya, saya ajarkan apa yang telah diajarkan oleh orangtua saya kepada saya. Pegangan hidup saya, "Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh" saya sampaikan kepada mereka.
Ya, memang atas dasar itu saya menghadapi segala sesuatu: yang baik dan yang tidak baik, penderitaan dan kesenangan. Kalau segala itu kita kembalikan kepada Tuhan, sebenarnya segala itu pun adalah biasa.
Pandangan hidup saya berdasarkan kepada percaya kepada Tuhan kepada kekuasaan-Nya. Dengan begitu, maka dengan sendirinya saya percaya, bahwa apa pun yang dikehendaki Tuhan, pasti bisa terjadi.
Sebab itu, saya percaya kepada takdir manusia yang telah digariskan oleh Tuhan. Segala sesuatu yang memang sudah dikehendaki oleh Tuhan, terhadap manusia, dan terhadap segala isi alam semesta ini, tinggal pasrah saja. Tidaklah perlu kita kaget.
Sesuatu yang seolah-olah merupakan keistimewaan pada seseorang tidaklah perlu pula menyebabkan kita heran. Tidaklah perlu kita terbelalak dibuatnya sampai mengucapkan "wah hebat sekali." Kembalikanlah hal itu kepada Tuhan dan kita 'aja gumunan' (jangan heran).
Kalau kita mempunyai kedudukan, kekayaan, mempunyai sesuatu yang lebih, janganlah lupa, bahwa sewaktu-waktu hal itu bisa berubah, kalau Tuhan menghendakinya. Sebab itu 'aja dumeh' (jangan mentang-mentang) kedudukan tinggi, terus bertindak sewenang-wenang, 'aja dumeh' mempunyai kekayaan yang berlimpah-limpah, lalu lupa daratan.
Kalau saya mengenang penderitaan sewaktu kecil, sewaktu muda, saya akan bisa sedih dibuatnya. Tetapi kalau diambil manfaatnya, justru karena penderitaan saya sejak kecil itulah maka saya menjadi orang. Maka saya menjadi seseorang yang berpikir, yang mempunyai perasaan karena pernah menderita.
Memang, saya selalu ingat pada pengalaman dan kesusahan saya pada masa kecil, dan sebab itu saya menekankan pentingnya 'tepa selira' (hendaknya meraba pada diri sendiri). Sepantasnya rasa 'tepa selira' saya besar, disebabkan oleh penderitaan saya yang begitu besar.
Dengan sendirinya saya bisa merasakan betapa penderitaan orang lain. Dengan sendirinya saya bisa mengukurnya. Sebab itu pula timbul perasaan dan keinginan yang besar pada saya, supaya orang lain jangan sampai menderita. Sebab itu pulalah keinginan saya besar untuk menolong mereka yang terkepung oleh penderitaan. Begitulah saya bersikap sewaktu menjadi panglima, begitupula sewaktu menjadi komandan terhadap anak buah. Begitu juga sampai menjadi presiden. Selalu saya usahakan sejauh mungkin, agar rakyat tidak menderita, setahap demi setahap.
Orang menderita itu tidak enak. Saya sendiri telah merasakannya.
Begitulah ajaran yang saya tempakan kepada anak-anak saya, dan sekarang kepada cucu-cucu saya, di tengah suasana kekeluargaan, di rumah di Jalan Cendana. (halaman 229-231 Bab 30)."

Terlepas dari segala kontroversi yang menimpa dirinya, patutlah kita berdiri tegak memberi penghormatan setinggi-tingginya pada beliau menuju peristirahatan terakhirnya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 7 hari berkabung nasional, mengimbau seluruh kalangan masyarakat, instansi pemerintah dan swasta untuk mengibarkan bendera setengah tiang terhitung 27 Januari - 02 Februari 2008.
Selamat jalan Jenderal.. apa yang telah kau titiskan pada bangsa akan tetap kami perjuangkan... Selamat jalan, semoga kedamaian abadi kau dapatkan di alam sana...
*baca biografi Soeharto lainnya dihttp://mblank.multiply.com/journal/item/5/Soeharto_Dalam_Sepak_Terjangnya

Share this article :
 

Posting Komentar

 

Kontak

KOS IMUT
KOS IMUT Lantai 1
Jl.Margasatwa, Banaran
Semarang
Email : naetyawardana@yahoo.co.id


Support : Creating Website | Pranatya
Copyright © 2013. GENERAL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Pranatya
Proudly powered by Pranatya's